Menjadi anggota generasi yang lahir pada tahun 1980-an adalah pengalaman yang luar biasa. Saya mengawali masa kecil saya tanpa internet, lalu secara bertahap menyaksikan bagaimana kehadiran internet mengubah segalanya.
Dari handphone monokrom yang hanya dapat mengirim SMS hingga smartphone yang menjawab segala pertanyaan. mulai dari komputer PC berlayar tabung hingga laptop canggih dan tipis.
Ini mungkin terdengar seperti cerita lama bagi generasi sekarang yang lahir di era TikTok dan ChatGPT. Namun, bagi saya, ini adalah pengalaman yang mengajarkan saya satu hal: beradaptasi atau punah.
Hidup saat ini sangat cepat. AI mengubah cara orang bekerja dan berpikir. Apakah saya merasa takut? Tentu saja. Lihatlah copywriting: dulu harganya tinggi, tetapi AI sekarang dapat menghasilkan ratusan ide dalam beberapa detik.
Disruptif ini mulai terlibat dalam desain grafis, analisis data, bahkan pendidikan.
Namun, meskipun saya khawatir, saya memilih melihat peluang. Saya percaya bahwa AI hanyalah alat; itu seperti pisau, yang memiliki kemampuan untuk memotong tetapi juga melukai. Pengguna memiliki kunci.
Baca Juga: Tips Investasi: Lebih Baik Beli Domain Website!
Saya saat ini berkonsentrasi pada satu hal: menjadi manusia yang tetap menjadi diri saya sendiri di tengah derasnya teknologi. Logika dan naluri harus sejalan. Intelektual yang tajam, tidak mudah FOMO.
Contoh nyata:
Hidup ini seperti roda berputar. Mesin mungkin menggantikan kita, tetapi jangan sampai kita merasa kalah sebelum perang.
Jangan panik atau larut dalam ketakutan. Jangan pernah berhenti bergerak: belajar, mencoba, dan beradaptasi. Jadi, menjadi pembelajar seumur hidup adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di era di mana AI berkembang dengan cepat.

Penyedia layanan Website dan SEO berkualitas. Menghasilkan lebih banyak traffict, meningkatkan penjualan